Grand Design Memojokkan Islam di Negeri Demokrasi bernama Indonesia
Featured
Benang Merah Pancasila dan Zionisme dalam Talmud Yahudi
kekerasan-negara
Boikot Israel! Jangan Produknya Saja, Pemikirannya Juga Wajib Diboikot
ISLAM LIBERAL, Bangkitnya “ISLAM PROTESTAN”

Analisis, Liberalisme,  

ISLAM LIBERAL, Bangkitnya “ISLAM PROTESTAN”

Posted on 27 May 2012

Seorang Luthfi Asy-Syaukani (dosen Universitas Paramadina Jakarta), tokoh Jaringan Islam Liberal yang menjadi moderator di e-group pernah mengutarakan (tanggal 13-03-2001) tentang tujuan berdirinya Islam Liberal : “Saya melihat bahwa mayoritas umat Islam yang ada sekarang adalah Islam ortodoks, baik dalam wajahnya yang undamentalis maupun konservtif. Islam liberal datan sebagai sebuah bentuk protes dan perlawanan terhadap dominasi itu. Ketika kita mengatakan “bebas dari” dan “bebas untuk”, kita mmposisikan diri menjadi seorang yang “protestan” yang berusaha mencari hal-hal yang baik dari warisan agama dan membuang hal-hal yang buruk. Saya membayangkan semangat protestanisme itu adalah semangat yang seluruhnya bersifat positif, seperti yang dijelaskan dengan sangat bagus oleh Weber. Continue Reading

Comments (4)

Londo Gosong

Berita, Opini Redaksi,  

Londo Gosong

Posted on 27 May 2012

Semasa simbah SD dulu, di lapangan sepakbola kabupaten seringkali diputar pilem layar tancep alias misbar (gerimis bubar). Pilem yang biasanya terbagi menjadi beberapa rol putaran itu menjadi acara paporit karena memang belum banyaknya alternatip hiburan yang tersedia saat itu. Salah satu pilem paporit simbah kala itu adalah si Pitung, yang gak pernah simbah tonton sampai rampung dikarenakan di saat rol terakhir mau habis, simbah hampir selalu diajak pulang oleh mbah kakung yang sudah ngantuk.

Di pilem lawas itu diceritakan bagaimana si Pitung dengan heroiknya melawan penjajah Belanda yang dengan wagunya diperankan oleh bintang-bintang pilem terkenal saat itu. Di hampir semua episode, usaha si Pitung selalu dijegal oleh orang pribumi yang malah justru menjadi antek penjajah. Kulitannya pribumi, tapi hatinya ikut Londo (Penjajah Belanda). Maka wajar jika lantas karakter ini disebut sebagai Londo Gosong.

Karakter Londo Gosong ini merupakan karakter pengkhianat yang selalu merugikan sang tokoh pahlawan. Tidak hanya di pilem si Pitung karakter Londo Gosong ini bisa ditemui, tapi di pilem-pilem kepahlawanan lainnya selalu saja ada karakter dengan perilaku Londo Gosong ini. Ciri-ciri Londo Gosong era jaman pilem kuno ini selalu diwarnai dengan watak pengkhianat yang mau menjual bangsanya sendiri. Rela dijejeli roti keju buat menusuk dari dalam. Lebih mencintai gulden Londo daripada gobangan rupiah anak negeri. Dan lebih bangga mengonsumsi apa-apa yang berbau Londo daripada produk dewek.

Jika sampeyan mau mengamati, sebenarnya propil Londo Gosong ini Continue Reading

Comments (0)

Inflasi : Proses Pengurangan Timbangan Secara Massal, Salah Siapa?

ORIMIC

Inflasi : Proses Pengurangan Timbangan Secara Massal, Salah Siapa?

Posted on 29 April 2011

Supaya ada rasa empati kita dengan sebagian penduduk negeri ini yang bekerja sebagai pekerja kasar, marilah kita bayangkan diri kita adalah mereka – setiap hari kita bekerja keras banting tulang untuk menghidupi anak istri. Sebagai buruh kasar , tahun 2006 kita mendapatkan upah rata-rata Rp 30,000/hari. Sebagian dari kita ada yang beruntung bekerja pada majikan yang usahanya berjalan baik sehingga mampu menaikkan upah 10% per tahun, maka upah mereka ini tahun 2010 lalu telah menjadi Rp 44,000/hari.Sebagian yang lain bekerja dengan majikan yang usahanya pas-pasan – majikan ini hanya mampu menaikkan upah 5% per tahun – maka upah mereka menjadi Rp 36,500/hari. Sebagian yang lain lagi, majikannya hanya mampu untuk sekedar survive di tengah persaingan dan krisis ekonomi global – mereka tidak mampu menaikkan upah buruh – tetapi masih untung tidak mem-PHK-kan para buruhnya – maka untuk mereka ini upahnya tetap Rp 30,000/ hari hingga kini. Baik yang bekerja di majikan yang usahanya maju, pas-pasan maupun yang sekedar survive– semuanya sama telah bekerja dengan sangat keras selama lima tahun dari 2006 – 2010 untuk tetap mendapatkan upahnya masing-masing. Sebagai buruh kasar dengan penghasilan antara Rp 30,000/hari s/d Rp 44,000/ hari tersebut – sebagian terbesar dari penghasilan ini habis untuk membeli bahan pangan untuk bertahan hidup sehari-hari.

Di sinilah masalahnya, meskipun mereka Continue Reading

Comments (4)

Analisis, Intelejen

Infiltrasi Intelejen dalam Tubuh NII KW-9

Posted on 28 April 2011

NII KW 9Pada tahun 1994, di Pandeglang terjadi penangkapan besar-besaran terhadap 800 lebih jamaah NII KW-9. Mereka yang ditangkap aparat itu sebenarnya mantan anggota NII KW-9 pimpinan Toto Salam alias Abu Toto. Di hadapan aparat mereka mengakui baru saja melepaskan diri dari keanggotaan NII KW-9, serta menjelaskan bahwa pimpinan mereka adalah Abu Toto. Mereka semua akhirnya dijebloskan ke penjara dengan masa tahanan paling rendah 23 minggu. Namun, sosok yang bernama Abu Toto sendiri sama sekali tidak disentuh aparat.

Siapa sebenarnya Abu Toto? Di tahun 1980, menurut pengakuan Mohammad Sebari (mantan Kepala Bagian Keuangan DPR RI dan tokoh elite KW-9), ketika elite NII KW-9 ditangkap Ali Moertopo, Abu Toto justru kabur ke Sabah (Malaysia) sambil membawa lari uang jamaah sebanyak dua miliar rupiah. Toto muncul kembali sekitar tahun 1988-1989 dan bergabung dengan Karim Hasan yang secara ideologis sudah berbeda dengan Soebari. Toto berhasil meyakinkan Karim Hasan yang secara akidah sudah menyimpang itu untuk ‘kembali’ kepada NII. Padahal, di tahun 1983, Karim Hasan sudah menyatakan keluar dari NII faksi Adah Djaelani. Continue Reading

Comments (1)

Infiltrasi Intelejen dalam Kasus Pembajakan Pesawat Woyla

Intelejen

Infiltrasi Intelejen dalam Kasus Pembajakan Pesawat Woyla

Posted on 27 April 2011

Tahun 1981 Najamuddin disusupkan ke dalam gerakan Jamaah Imran di Cimahi, Jawa Barat. Najamuddin pulalah yang merancang aksi anarkis berupa penyerbuan Polsek Cicendo, bahkan merancang aksi pembajakan pesawat Garuda. Peristiwa ini dikenal dengan kasus “Pembajakan Woyla.” Salah seorang “sutradara” pembajakan Woyla adalah Mulyani (belakangan lebih dikenal dengan nama A. Yani Wahid, kini almarhum). Sebagai “sutradara” ia tidak ikut dalam aksi pembajakan, namun segala persiapan pembajakan berada di tangannya. Semasa hidupnya, almarhum berkawan karib dengan Hendropriyono, bahkan ia menjadi motor penggerak di dalam mencetuskan konsep ishlah untuk kasus “Lampung Berdarah.” Selain itu, Yani juga pernah menjadi staf Menkopolkam semasa dijabat SBY (di era pemerintahan Megawati). Bahkan dia ikut pula menyukseskan SBY hingga mencapai puncak sebagai Presiden RI.FI

Stigmatisasi ala Komando Jihad juga terjadi pada kelompok pengajian pimpinan Imran bin Zein ini. Sebagai sebuah kelompok pengajian, pemuda-pemuda bersemangat kala itu sama sekali tidak menyebut dirinya sebagai Jamaah Imran. Barulah setelah pecah kasus penyerbuan Polsek Cicendo dan pembajakan Pesawat Woyla, kelompok ini diberi label Continue Reading

Comments (0)

Analisis, Intelejen

Infiltrasi Intelejen dalam Islam Jamaah/Lemkari

Posted on 26 April 2011

Inflitrasi IntelejenHampir tidak ada satu lembaga Islam pergerakan yang steril dari penetrasi intelijen. Sejak awal Orde Baru, fenomena ini sudah mulai terlihat. Tidak saja dalam rangka memata-matai, namun juga—seperti pada beberapa kasus—menjadi arsitek terciptanya sebuah gerakan radikal.

Awal tahun 1970, Ali Moertopo ‘menggarap’ Nur Hasan Ubaidah, sehingga berhasil dinobatkan sebagai “Imam” sebuah kelompok puritan ekstrem kanan yang kemudian terkenal dengan nama Islam Jama’ah (IJ). Salah satu ajarannya adalah mengafirkan, dan menganggap najis orang Islam di luar komunitasnya. Untuk menghindari protes massa akibat ajaran sesat yang dikembangkannya, lembaga ini berganti nama menjadi Lembaga Karyawan Islam (Lemkari), kemudian berganti lagi menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) hingga kini. Ketika itu, Jenderal TNI Purn. Rudini (mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri) berada di belakang perubahan nama dari IJ menjadi Lemkari, dan menjadi salah satu unsur pendukung Golkar, terutama sejak Pemilu 1971. Oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), IJ atau Lemkari atau Darul Hadits dinyatakan sebagai aliran sesat. Bahkan Kejaksaan Agung telah melakukan pelarangan di tahun 1971, melalui Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971.

Meski tidak berhasil memproduksi berbagai tindakan radikal, setidaknya Ali Moertopo—yang kemudian dilanjutkan oleh Rutini—melalui Nur Hasan Ubaidah dan Islam Jama’ah-nya telah sukses mendiskreditkan Islam sebagai Continue Reading

Comments (0)

SEE MORE ARTICLES IN THE ARCHIVE

Advertise Here
Advertise Here

RELATED SITES